Penyebab Krisis Ekonomi Suatu Negara

Penyebab Krisis Ekonomi Suatu Negara
Penyebab Krisis Ekonomi Suatu Negara (Ilustrasi : theenterpriseworld)

Penyebab krisis ekonomi- Keadaan ini pernah dialami Indonesia ketika memasuki masa transisi yang kala itu pemerintahan Orde Baru tumbang oleh serangkaian demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa, membuat keadaan ekonomi sangat tidak menentu yang ditandai dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar naik berkali-kali lipat, harga-harga barang naik tajam dan menurunnya daya beli masyarakat secara drastis.

Penyebab Krisis Moneter

Krisis Moneter atau Krismon istilah yang sangat dikenal di Indonesia dulu, merupakan krisis ekonomi yang ketika negara berada dalam keadaan yang terpuruk dalam hal ekonomi sifatnya nasional dan berdampak pada sektor-sektor lain.

Sebenarnya tidak hanya Indonesia yang pernah mengalami fase ini, ada beberapa negara yang juga pernah berada dalam jurang resesi ekonomi misalnya Yunani, Venezuela, beberapa negara Asean, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa juga pernah mengalami, bahkan negara super power Amerika juga pernah terpuruk kondisi ekonominya.

Negara yang sudah pernah terperosok dalam jurang ekonomi akan waktu lama untuk dapat pulih kembali seperti sedia kala.

Karena begitu besar dampaknya krisis ekonomi terhadap keadaan ekonomi, politik, sosial, stabilitas keamanan maka sebenarnya apa saja yang menjadi faktor utama penyebab terjadinya krisis ekonomi? Berikut dirangkum ulasannya dari beberapa sumber.

1. Inflasi

Inflasi menjadi momok utama yang menyebabkan krisis ekonomi. Dikutip dari laman Bank Indonesia, inflasi diartikan sebagai kenaikan harga baik barang dan jasa selama periode tertentu.

Jika inflasi terjadi tentunya akan membuat masyarakat umum tidak mampu lagi untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, yang pastinya membuat banyak masalah jika tidak ditangani dengan segera.

Baca juga  Tragedi Bloody Sunday, Republik Kurdistan Mahadab dan Banjir Sulawesi Selatan

Pengaruh Inflasi ini akan menghantam daya beli masyarakat, yang kalau tidak segera diintervensi pemerintah akan merembet pada situasi chaos bahkan bisa menjurus ke riots.

Harga komoditas yang melambung tinggi membuat tidak terbeli, masyarakat menjadi kalap dan sulit untuk dikendalikan. Kondisi yang pasti terjadi adalah akan mendorong terjadinya penjarahan barang untuk memenuhi kebutuhan.

Negara yang mengalami krisis ekonomi pasti tingkat inflasinya naik tajam, bahkan jika sudah terjadi Hiperinflasi, uang menjadi hal yang tidak berguna lagi sebagai alat tukar seperti yang terjadi di Venezuela.

2. Stagflasi

Stagflasi adalah kombinasi antara inflasi dan kontraksi, yang diartikan sebagai keadaan suatu negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi lambat bahkan minus. Kondisi yang sangat umum terjadi pada stagflasi adalah pengangguran yang meningkat.

Pengangguran merupakan akar masalah yang serius karena masyarakat yang tidak bisa mengakses pekerjaan artinya tidak memiliki pendapatan. Mereka yang tidak memiliki pendapatan akan rentan untuk melakukan tindakan diluar ranah hukum untuk pemenuhan kebutuhan.

3. Menurunnya Daya Beli Masyarakat

Krisis ekonomi juga akan disebabkan karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum. Keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari peningkatan inflasi yang tidak segera ditangani, membuat kenaikan harga-harga barang.

Akibatnya masyarakat akan sangat selektif dalam membeli barang yang benar-benar dibutuhkan dalam jumlah yang terbatas saja. Ini akibat ketimpangan antara harga barang dengan pendapatan yang cenderung stagnan bahkan menurun.

4. Harga Saham Jatuh

Kepercayaan dari investor sangat sensitif dan dinamis yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik dan keamanan suatu negara.

Jika kepercayaan investor menurun maka harga saham gabungan juga ikut tergerus. Ini akan berimbas pada habisnya modal bisnis karena harga turun drastis hingga menciptakan titik terendah yang baru.

Baca juga  Senjata Meriam Orban Alfatih dalam Penaklukan Konstantinopel

5. Deflasi

Deflasi bisa dikatakan adalah kondisi sebaliknya dari inflasi. Tidak selalu harga barang yang turun itu baik secara ekonomi, apalagi terjadi dalam waktu yang berkepanjangan.

Jika harga barang dan jasa turun terus-menerus akan berakibat pada sedikitnya barang dan jasa yang ditawarkan. Artinya penawaran rendah sementara permintaan tetap.

Kondisi ini tidak baik karena produsen merasa dirugikan yang tidak bisa mencapai keuntungan yang diinginkan. Dan imbasnya adalah pada pengurangan peroduksi barang  dengan begitu juga akan ada pengurangan karyawan. Sehingga bisa dikatakan akan menstimulasi peningkatan pengangguran.

6. Penurunan Penjualan Properti

Salah satu aset yang cenderung harganya mengalami kenaikan harga adalah properti, termasuk didalamnya adalah tanah, rumah, apartment dan sebagainya.

Sebagai indikator terjadinya krisis ekonomi adalah lesunya penjualan properti, karena masyarakat lebih memilih hal lain untuk dibelanjakan.

Maka bank sebagai penghimpun dana masyarakat akan kehilangan banyak uang dari kegiatan membiayai perumahan-perumahan baru. Ini menjadi pertanda pada ketidakstabilan ekonomi untuk jangka waktu tertentu.

7. Perubahan Kebijakan Mendadak

Kebijakan juga sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi, apalagi dalam membuat kebijakan banyak pihak yang merasa dirugikan. Misalnya menaikkan pajak PPN dari 10 % menjadi katakanlah 20 %, artinya terjadi kenaikan dua kali lipat.

Jelas pihak yang dirugikan adalah produsen atau investor, karena pastinya akan mengurangi minat pembeli karena akan mengerek harga barang. Keadaan ini jika ditarik lebih jauh lagi akan berdampak pada penurunan PDB sebuah negara.

Demikian beberapa faktor penyebab yang mendorong terjadinya krisis ekonomi yang semoga menjadi manfaat bagi sobat Mibi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *