10 Januari: Pertempuran Vaslui, Perjanjian Versailles dan Tritura

Now You Know – 10 Januari: Pertempuran Vaslui, Perjanjian Versailles dan Tritura
Now You Know – 10 Januari: Pertempuran Vaslui, Perjanjian Versailles dan Tritura (Image: tribunnews)

Halo sobat Mibi hari ini tanggal 10 Januari telah tercatat dalam sejarah nasional dan dunia beberapa peristiwa penting dan menarik untuk disimak bersama sebagai pengetahuan umum, diantaranya adalah Pertempuran Vaslui, Perjanjian Versailles dan Tritura:

Pertempuran Vaslui – Moldova Vs Utsmaniyah

Pertempuran ini juga dikenal dengan Pertempuran Podul nalt dan Pertempuran Racova. Terjadi antara Pangeran Moldavia (sekarang bagian dari Rumania), Stephen Agung dan Beylerbeyi dari Rumelia Gubernur (Utsmaniyah di Rumelia), Hadim Suleiman Pasha atau dikenal Sultan Mehmed III pada tanggal 10 Januari 1475.

Pertempuran terjadi di Podul nalt (Jembatan Tinggi), dekat kota Vaslui, di Moldavia (sekarang bagian dari Rumania timur) antara Barnaba dan Racovica.

Pasukan Utsmaniyah berjumlah antara 60.000 dan 120.000 menghadapi sekitar 40.000 tentara Moldavia. Ditambah sejumlah kecil pasukan sekutu dan tentara bayaran di kedua sisi.

Perebutan Wilayah

Pertempuran ditengarai karena perebutan wilayah bersejarah yang sangat strategi di Bessarabia Selatan yang dulunya pernah dikuasai Wallachia. Namun tunduk akibat invasi dari Moldavia dan telah menjadi wilayah dari Moldavia dibawah Imperium Roma.

Wilayah ini pernah diperebutkan oleh beberapa kekuasaan dari Utsmaniyah di abad 15. Dan begitu juga Polandia dan Hongaria namun semuanya berakhir kegagalan.

Pelabuhan Chillia dan Akkerman merupakan dua jantung aktivitas yang sangat penting bagi Moldavia. Yang dipertahankan begitu rupa karena memberi dampak yang besar bagi ekonomi dan juga politik.

Pada pertempuran melawan Utsmaniyah, Stephen menimbulkan kekalahan yang sangat besar di pihak Ottoman yang telah dikatakan sebagai salah satu pasukan Islam terbesar yang pernah dia hadapi.

Dengan kekalahan itu, maka menurut beberapa catatan, pihak Utsmaniyah harus kehilangan banyak pasukannya yang diperkirakan hingga 40.000 lebih pasukan.

Sebagaimana disaksikan oleh Maraym Khanum ( Mara Brankovic ), mantan istri muda Murad II, kepada seorang utusan Venesia. Invasi tersebut merupakan kekalahan terparah bagi Utsmaniyah saat itu. Stephen kemudian dianugerahi gelar “Athleta Christi” oleh Paus Sixtus IV.

Kemenangan Stephen

Penulis sejarah Polandia terkenal, Jan Długosz, memuji Stephen setelah kemenangannya dalam pertempuran sebgai pahlawan terpuji, tidak kalah dengan pahlawan prajurit lain.

Dlugosz juga memuji Stephen sebagai orang kontemporer pertama di antara para penguasa dunia yang mencetak kemenangan menentukan melawan Turki.

Masih menurut Długosz, Stephen tidak merayakan kemenangannya. Sebaliknya, dia berpuasa selama empat puluh hari dengan makan roti dan air. Dan melarang siapa pun untuk mengatribusikan kemenangan kepadanya, bersikeras dirinya tidak layak untuk mendapat pujian.

Perjanjian Damai Versailles

Dibunuhnya Putra Mahkota Austria, Franz Ferdinand pada awal abad ke-20 telah memantik negara-negara kuat untuk ikut dalam pusara perang global yang dinamakan Perang Dunia I hingga beberapa tahun kedepan perang ini diakhiri.

Secara resmi PD I berkahir dengan ditandantanganinya Perjanjian Damai Versailles. Konferensi ini dihadiri “Empat Besar”—David Lloyd George, Perdana Menteri Inggris; Georges Clemenceau, Perdana Menteri Prancis; Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat; dan Vittorio Orlando, Perdana Menteri Italia.

Perjanjian ini ditandatangani di Istana Versailles tanggal 28 Juni 1919. Ini merupakan tanggal dimana tepat 5 tahun setelah pembunuhan Putra Mahkota Franz Ferdinand. Namun perjanjian Versailles secara efektif diterapkan pada tanggal 10 Januari 1920.

Dalam konferensi beberapa negara tidak dilibatkan dalam pembuatan perjanjian damai yang sebenarnya juga terlibat langsung pada PD I. Misalnya Pemerintah Bolshevik karena menolak utang kepada Rusia yang menjadi sekutu Amerika yang membuat marah sekutu.

Kekuatan Sekutu menolak untuk mengakui Pemerintah Bolshevik yang baru dan dengan demikian tidak mengundang perwakilannya ke Konferensi Perdamaian. Sekutu juga mengecualikan Blok Sentral yang kalah (Jerman, Austria-Hongaria, Turki, dan Bulgaria).

Kekalahan Jerman

Sesuai dengan keinginan Prancis dan Inggris, Perjanjian Versailles membuat Jerman dikenai tindakan hukuman yang ketat.

Perjanjian tersebut mengharuskan Pemerintah Jerman yang baru untuk menyerahkan sekitar 10 persen wilayahnya sebelum perang di Eropa dan semua harta miliknya di luar negeri.

Denda yang besar juga dibebankan kepada Jerman sebagai ‘biaya reparasi’ akibat dari peperangan sebesar 132 miliar emas (atau $31,4 miliar atau, kira-kira setara dengan US$442 miliar pada 2022).

Banyak pihak yang menyatakan jika perjanjian damai itu tidak manusiawi bagi pihak yang harus membayar dendaa ‘biaya reparasi’ dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Para ahli sejarah menilai jika perjanjian itu malah bersifat counter-productive. Tidak bernalar dan berlebihan yang tercatat sebagai perjanjian kontroversial yang akan menjadi perdebatan baik oleh ekonom dan sejarawan.

Demonstrasi Tritura

Peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 telah memicu banyak lapisan masyarakat untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi.

Pasalnya, pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dianggap gagal menjalankan pemerintahannya. Karena membiarkan peristiwa berdarah itu tanpa ada penelusuran lebih lanjut yang membuat masyarakat bertanya-tanya.

Apalagi kedaan politik waktu itu yang pemerintahan Soekarno masih banyak diisi oleh orang-orang kiri dari PKI. Membuat kemarahan massa memuncak sehingga demontrasi di tanggal 10 -13 Januari 1966 tidak dapat dielakkan lagi.

Mahasiswa memimpin demonstrasi besar di Jakarta dengan beberapa organisasi lainnya diantaranya yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan sebagainya.

Tiga Tuntutan

Mereka turun ke jalan dan melayangkan tiga tuntutan atau yang dikenal dengan ‘Tritura/Tri Tuntutan Rakyat’ sebagai berikut:

  1. Bubarkan PKI. Lambatnya penanganan akibat pada peristiwa 30 September yang ditengarai adanya keterliabatan dari PKI. Mendesak pemerintah untuk segera turun tangan membuabarkan partai itu.
  2. Perombakan Kabinet Dwikora. Presiden Soekarno dianggap tidak terlalu peduli dengan kondisi politik, sosial dan ekonomi dalam negeri karena lebih mementingkan konfrontasi dengan Malaysia dan juga perebutan Irian Jaya.
  3. Turunkan harga-harga barang. Kondisi ekonomi yang dianggap masih buruk membuat kenaikan harga-harga barang, dan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan mereka.

Atas tuntutan itu, Presiden Soekarno merespon dengan melakukan reshuffle kabinet, namun ternyata perombakan itu masih melibatkan orang-orang dari PKI.

Melihat perombakan yang belum memenuhi tuntutan rakyat, maka demonstrasi kembali dilakukan di Februari 1966 yang membuat satu mahasiswa kehilangan nyawanya.

Dengan tidak stabilnya keadaan di Jakarta, maka Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dilayangkan kepada Soeharto yang isinya tentang mandat untuk melaksanakan tugas dan wewenang dalam mengambil segala tindakan yang dirasa perlu untuk mengendalikan dan memulihkan keamanan serta ketertiban yang masih kacau di dalam negeri.

Supersemar ini kelak yang mengakhiri kekuasaan Orde lama dan digantinya dengan Orde Baru oleh Soeharto.

Info lain: Now You Know – 09 Januari: Keracunan Bir di Mozambik dan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *