Keracunan Bir di Mozambik dan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182

Now You Know – 09 Januari: Keracunan Bir di Mozambik dan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182
Now You Know – 09 Januari: Keracunan Bir di Mozambik dan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182 (pict: ewn)

Halo sobat Mibi hari ini tanggal 09 Januari telah tercatat dalam sejarah nasional dan dunia beberapa peristiwa penting dan menarik untuk disimak bersama sebagai pegetahuan umum, diantaranya Keracunan Bir di Mozambik dan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182

Kematian Keracunan Bir di Mozambik

Kegiatan biasa dalam mengunjungi keluarga pelayat di Chitima, Mozambik, berubah menjadi tragedi. Para pelayat menenggak bir yang memang biasanya disuguhkan tuan rumah pada tanggal 9 Januari 2015. Ini berakibat pada kematian sejumlah 75 orang dan ratusan orang sakit.

Sejak tanggal itu dan beberapa hari kedepannya, rumah sakit lokal dibanjiri dengan orang-orang yang memiliki keluhan yang sama. Keluhan itu seperti kram pada perut, mual-mual, diare hingga muntah-muntah, yang jumlahnya lebih dari 200 orang.

Sumber kontaminasi tampaknya adalah bir tradisional, Pombe, yang terbuat dari millet atau tepung jagung. Pombe merupakan minuman tradisional berakohol yang dikenal di Afrika Timur.

Pihak berwenang memiliki dugaan bahwa para korban yang meninggal diakibatkan meminum bir yang telah diracuni dengan empedu buaya.

Alibinya adalah para pelayat yang datang dan meminum bir di pagi hari tidak ada yang melaporkan keracunan. Namun untuk mereka yang datang di sore hari dan meminum bir tersebut, dilaporkan sakit dengan merasa mual, pusing, muntah-muntah. Jadi ada pandangan jika bir diracuni waktu para pelayat berkunjung ke kuburan.

Efek Empedu

Dalam beberapa pandangan umum masyarakat disana, empedu buaya dianggap memiliki efek yang sangat beracun. Sehingga ketika mereka membunuhnya harus menyingkirkan empedunya dan menguburnya agar tidak mengkontaminasi.

Baca juga  Organisasi Muhammadiyah Berdiri, Kebakaran di Stasiun Bawah Tanah London

Jika dibandingkan dengan empedu mamalia lainnya, empedu buaya hampir tidak berbeda, karena semua mamalia memilikinya di saluran penceranaan.

Pada sebuah ujia coba terhadap tikus yang diberi umpan dengan telah diberi ekstrak empedu, tikus-tikus tidak mati.

Lagipula sejarahnya banyak peternak lokal yang mengeringkan empedu buaya untuk kemudian dijual ke Timur Jauh, yang dipercaya sebagai salah satu sumber obat di Tiongkok.

Beberapa media barat melihat fenomena itu dan membuat artikel yang menyanggah bahwa penyebab kematian dari empedu buaya, namun dari faktor lain.

David Kroll merupakan peneliti untuk majalah Forbess menyangsikan jika empedu buaya yang kecil bisa dicampur dalam 210 liter bir dengan efek yang begitu mematikan.

Kemudian untuk mencari kebenaran, akhirnya semua sisa yang ada dalam drum pembuat bir tersebut diambil baik bir itu sendiri. Sampel darah dan hal-hal yang mencurigakan dibawa ke Laboratorium Nasional untuk analisis selanjutnya.

Bakteri Gladioli

Penelitian itu menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa adanya bakteri yang disebut dengan Burkholderia Gladioli. Menghasilkan racun dengan nama asam bongkrekat dan toksoflavin yang didapatkan pada bir dan tepung jagung dalam seduhannya. Ini dianggap sebagai bahan yang bertanggung jawab akan kematian dan juga penyebab penyakit.

Fakta lainnya juga ditemukan bahwa sebenarnya tepung jagung yang dibuat sebagai bahan seduhan bir sebenarnya telah rusak akibat banjir. Namun oleh penjual tetap diperdagangkan dengan dalih masih bisa digunakan, yang ternyata sudah membusuk dan menimbulkan munculnya bakteri tersebut.

Atas kejadian itu maka, Presiden Armando Guebuza mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk para korban keracunan bir di mozambik massal yang terjadi ketika orang menghadiri pemakaman di desa Chitima di Mozambik tengah.

Baca juga  John C Maxwell Kepemimpinan yang Memiliki 5 Tingkatan Level

Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182

Tepat setahun yang lalu, 9 Januari 2021 terjadi tragedi kecelakaan penerbangan untuk pesawat yang dioperasikan oleh Perusahaan Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan 182. Pesawat ini jatuh di perairan sekitar Pulau Seribu, hanya berselang empat menit setelah lepas landas.

Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang memiliki rute penerbangan dari  Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang dengan jadwal lepas landas pukul 13:25, yang dijadwalkan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pukul 15:00.

Namun akibat cuaca yang kurang bersahabat akibat badai dan hujan yang sangat lebat, pesawat baru lepas landas 30 menit dari jadwal seharusnya.

Jumlah Korban

Seluruh orang yang berada di pesawat itu berjumlah 62 orang dengan 50 orang penumpan yang 3 diantaranya bayi, serta sisanya 6 orang kru dan 6 orang kru lainnya yang tidak bertugas namun juga ada dalam pesawat.

Pesawat menjalani penerbangan yang sesuai dengan prosedur dan pihak otoritas juga menyatakan jika pesawat masih laik terbang walaupun pesawat merupakan produksi tahun 1994, artinya sudah 26 tahun.

Pakar penerbangan Indonesia mengatakan bahwa pesawat telah disimpan untuk diperbaiki oleh Sriwijaya Air antara 23 Maret dan 23 Oktober 2020, menandakan sejarah perawatan yang baik.

Namun, para ahli lain berspekulasi bahwa waktu lama yang dihabiskan tidak aktif mungkin telah menyebabkan kerusakan dan masalah teknis mungkin telah berkembang.

Pada 22 Januari terungkap bahwa kerusakan sistem autothrottle telah dilaporkan beberapa hari sebelum penerbangan. Pesawat dapat terbang tanpa sistem, bagaimanapun, karena pilot dapat mengatur throttle secara manual.

Penyelidikan juga mengungkap ketika pesawat mencapai ketinggian 10.000 kaki, terjadi gangguan pesawat. Autopilot terlepas dan pesawat berguling ke kiri dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat. Beberapa detik kemudian, auto-throttle kemudian terlepas.

Baca juga  Mengenal Blackrock dan Vanguard Perusahaan Investasi Terbesar di Dunia

Pencarian Korban

Dalam pencarian pesawat, BASARNAS segera mengerahkan personel ke lokasi kecelakaan. Sementara Kepolisian Republik Indonesia dan Kementerian Perhubungan mendirikan pusat krisis di Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Internasional Soekarno–Hatta. TNI AL mengerahkan sejumlah kapal untuk operasi pencarian dan penyelamatan, selain helikopter dan personel KOPASKA.

Segera setelah kecelakaan itu, perusahaan asuransi negara Jasa Raharja mengumumkan bahwa mereka akan memberikan kompensasi kepada kerabat penumpang dan awak pesawat di Penerbangan 182.

Setiap keluarga terdekat dari almarhum akan menerima Rp 50 juta. Menteri Sosial Tri Rismaharini mengumumkan bahwa kementeriannya akan memberikan Rp 15 juta untuk setiap korban untuk kompensasi.

Info lain: Now You Know – 8 Januari: Keputusan Kasfh-e Hijab Dikeluarkan dan Penyanderaan Mapenduma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *