Analisis Ekonomi dalam Fundamental Investasi

  • Share
analisis ekonomi fundamental saham

Mikaylabinar.com– Analisis ekonomi merupakan bagian dari analisis fundamental untuk menilai kelayakan investasi.

Dalam melakukan analisis saham, investor bisa melakukan analisis fundamental secara top down untuk menilai saham suatu perusahaan layak untuk investasi atau tidak dan metode analisis yang digunakan salah satunya adalah Analisis ekonomi

Analisis ekonomi perlu dilakukan karena kecenderungan adanya hubungan yang kuat antara kondisi ekonomi makro dan pasar modal.

Pasar modal mencerminkan apa yang terjadi pada perekonomian secara makro karena nilai investasi ditentukan oleh aliran kas dan tingkat pengembaliannya

Terdapat beberapa variable yang digunakan dalam pendekatan fundamental berdasarkan analisis ekonomi, sebagai berikut:

A. PRODUK DOMESTIK BRUTO (GDP)

GDP adalah jumlah produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk WNI dalam negeri maupun penduduk asing yang berada di dalam negeri, tidak termasuk WNI yang tinggal di luar negeri

GDP menjadi indikator ekonomi yang paling sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan ekonomi nasional secara luas.

GDP yang digunakan dalam menghitung pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya adalah GDP riil, bukan GDP nominal

karena GDP nominal mengukur pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh bertambahnya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekonomi nasional dan inflasi.

Oleh karena itu pengaruh inflasi harus dihilangkan dari GDP nominal sehingga diperoleh GDP riil

GDP dipengaruhi oleh tingkat konsumsi, investasi , export maupun import pemerintah dan swasta. GDP akan meningkat seiring dengan terjadinya peningkatan pada konsumsi, investasi dan export.

Tidak termasuk import karena apabila import lebih besar daripada export akan terjadi defisit neraca barang atau perdagangan

Dengan demikian, dapat disimpulkan apabila pertumbuhan ekonomi membaik, daya beli masyarakatpun akan meningkat dan ini merupakan kesempatan bagi perusahaan (emiten) untuk meningkatkan penjualannya

Dengan meningkatnya penjualan perusahaan, maka kesempatan perusahaan untuk memperoleh laba juga semakin meningkat dan apabila laba juga mengalami kenaikan, biasanya dividen yang diterima investorpun mengalami peningkatan. Itulah yang dicari oleh investor

Baca juga: Model mengukur risiko kegagalan perusahaan

B. TINGKAT BUNGA

Tingkat bunga merupakan ukuran keuntungan investasi yang dapat diperoleh oleh investor dan juga merupakan ukuran biaya modal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk menggunakan dana dari pemodal

Hubungan antara tingkat bunga dengan pasar modal berbanding terbalik. Apabila tingkat suku bunga naik akan mengakibatkan pasar modal mengalami penurunan dan sebaliknya jika tingkat suku bunga turun akan mengakibatkan pasar modal mengalami kenaikan

Kenaikan tingkat suku bunga pada umumnya akan membuat harga saham turun karena akan memotong laba perusahaan.

Penurunan laba perusahaan ini terjadi dengan dua cara, Pertama. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya modal (cost of capital) dalam bentuk beban bunga yang harus ditanggung perusahaan dengan demikian akan berdampak pada laba yang bisa terpangkas

Kedua, ketika suku bunga tinggi berdampak pada kenaikan biaya produksi dan otomatis harga produk akan dinaikkan lebih mahal sehingga daya beli konsumen bisa saja menurun karena kenaikan harga barang tersebut.

Akibat selanjutnya, penjualan perusahaan menurun dan penurunan penjualan menyebabkan laba juga menurun

sehingga mengurangi tingkat kepercayaan investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut dan akan menekan harga sahamnya di bursa efek

Selanjutnya, tingkat bunga yang tinggi juga menyebabkan return yang disyaratkan investor dari suatu investasi akan meningkat. Namun, adakalanya kenaikan suku bunga tidak membuat harga saham turun jika naik perlahan

Naik turunnya suku bunga ditentukan oleh Bank Sentral yakni Bank Indonesia (BI) yang tujuannya adalah mengendalikan jumlah uang yang beredar.

BI mengeluarkan kebijakan bunga rendah untuk mendorong investasi dan konsumsi di masyarakat daripada menabung selain itu perusahaan akan lebih mudah untuk melakukan investasi

Sebaliknya, apabila inflasi tinggi maka BI akan menaikkan suku bunga sehingga menyebabkan masyarakat lebih suka menabung daripada melakukan investasi atau konsumsi

Baca juga: Instrumen pasar keuangan di Indonesia

C. INFLASI

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi secara umum dan terus-menerus.

Tingkat inflasi berkaitan dengan kondisi ekonomi yang overheating dimana kondisi ekonomi mengalami permintaan terhadap suatu barang melebihi kapasitas barang yang ditawarkan

Apabila terjadi inflasi maka daya beli masyarakat mengalami penurunan dan akan berdampak pada tingkat penjualan perusahaan yang juga mengalami penurunan dan tentunya ini akan menyebabkan laba perusahaan juga akan menurun. Apabila laba perusahaan menurun maka akan berdampak pula pada harga saham di bursa efek

Sebaliknya, apabila inflasi mengalami penurunan merupakan sinyal positif bagi investor karena daya beli masyarakat akan meningkat dan berakibat pula pada kenaikan pendapatan perusahaan.

Apabila pendapatan perusahaan meningkat akan meningkatkan kepercayaan investor dan tentunya harga saham juga akan naik di Bursa Efek

D. NILAI TUKAR

Nilai tukar atau fluktuasi kurs rupiah terhadap mata uang asing akan mempengaruhi iklim investasi dalam negeri khususnya di pasar modal.

Apabila kurs rupiah menguat maka akan berdampak pada pemasaran produk Indonesia di luar negeri  terutama dalam hal persaingan harga.

Dan ini akan berpengaruh baik terhadap neraca perdagangan (balance of trade). Sebaliknya, apabila neraca perdagangan memburuk tentu akan berpengaruh terhadap cadangan devisa.

Berkurangnya cadangan devisa akan mempengaruhi kepercayaan investor terhadap iklim investasi di dalam negeri sehingga investor asing cenderung melakukan penarikan modal (capital outflow)

Apabila nilai tukar menurun, akan berdampak pada perusahaan public yang menggantungkan bahan bakunya dari import.

Belanja import akan mempertinggi beban atau biaya produksi nya dan tentunya juga berat untuk mencetak laba yang dihasilkan.

Apabila laba menurun, maka investor akan menarik diri dari berinvestasi pada perusahaan tersebut

E. TINGKAT PENGANGGURAN

Tingkat pengangguran merupakan persentase dari jumlah tenaga kerja yang masih belum bekerja yang meliputi pengangguran terbuka maupun pengangguran tertutup.

Tingkat pengangguran ini mencerminkan sejauh mana kapasitas operasi ekonomi suatu Negara bisa dijalankan

Semakin tinggi pengangguran menjadi sinyal tidak baik bagi investor, karena pengangguran tinggi akan berdampak pada daya beli masyarakat yang tentunya juga akan berdampak pada laba bisnis di perusahaan.  

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *