Bisnis  

Tantangan Memulai Usaha Baru yang Akan Dihadapi Pelaku Usaha

Tantangan Memulai Usaha Baru yang Akan Dihadapi Para Pelaku Usaha
Tantangan Memulai Usaha Baru yang Akan Dihadapi Para Pelaku Usaha (Ilustrasi - Pexel)

Tantangan Memulai usaha baru- Bagi seorang wirausahawan, merintis usaha dalam kenyataannya tidak semudah apa yang dibayangkan. Begitu banyak tantangan yang dialami baik yang sudah diduga sebelumnya atau belum diprediksi.

Wirausahawan yang tangguh akan melalui semua tantangan itu untuk membawa usahanya menjadi besar dan semakin besar. Tantangan dan hambatan akan selalu menjadi ‘bumbu’ dalam perjalanan bisnis.

Lalu apa saja tantangan yang akan dihadapi para pelaku usaha yang masih baru dalam merintis usahanya? Ada 6 tantangan memulai usaha baru yang telah dirangkum bagi sobat Mibi.

1. Kurangnya Pengalaman

Semua orang yang baru terjun pada bidang tertentu apapun itu jenis usahanya, pasti harus beradaptasi terlebih dahulu agar memahami seluk beluknya. Kurangnya pengalaman menjadi tantangan terbesar yang akan dialami. Pengalaman akan terbentuk secara alami melalui terjun langsung dan mengetahui berbagai masalah dan berusaha menyelesaikannya.

Pengalaman memainkan peranan penting dalam berhasil atau tidaknya usaha yang dijalankan, karena wirausahawan yang belum berpengalaman akan cenderung untuk menjajaki banyak hal seperti produk apa yang sedang laku dijual di pasaran, kepada siapa barang akan ditawarkan,  cara promosi produk/jasa, cara distribusi barang, membangun struktur organisasi dan lain-lain.

Sehingga akibatnya di awal-awal menjalankan usaha akan banyak ‘uang dibakar’ untuk mencari cara dan sistem yang ‘pas’ dengan mencoba ini itu yang tentunya membutuhkan banyak modal keluar, yang belum tentu juga akan memberikan hasil yang maksimal.

2. Mendapatkan dan Menempatkan SDM yang tepat

Tidak bisa dipungkiri, SDM menjadi peran kunci bagi setiap usaha yang berperan menggerakkan dan menjalankan usaha secara benar.

Baca juga  Barang Konsinyasi Adalah : Definisi dan Jenis-jenisnya

Permasalahannya tidak mudah dalam merekrut orang yang tepat dengan spesialisasi dan karakter yang dibutuhkan serta membangun chemistry satu sama lain agar tercipta iklim kerja yang mendukung.

Begitu halnya juga dengan memnempatkan orang yang tepat, karena salah menempatkan orang akan membuat produktivitas pekerjaan menjadi menurun, malah kadang menghalangi efektivitas.

Apalagi jika akan merekrut karyawan dengan kualitas tinggi tentunya berimbas pada gaji tinggi yang harus diberikan, yang belum tentu juga bisa memberikan permintaan itu.

3. Akses Permodalan yang Sulit Didapat

Modal adalah penggerak utama, tanpa modal mustahil usaha bisa dijalankan. Para wirausahawan baru pasti juga akan mengalami permasalahan modal, dan tak jarang pula kurangnya modal dapat menghambat perkembangan usaha.

Belum lagi seringkali usaha-usaha baru biasanya menjalankan usahanya terlebih dahulu, dan terkait ijin belakangan diurus.

Sehingga akses kredit ke lembaga keuangan menjadi sulit karena bank membutuhkan beberapa dokumen terkait Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan dokumen lainnya dalam hal pemberian modal.

4. Belum Terbentuknya Divisi Pekerjaan Yang Jelas

Usaha-usaha yang baru pasti belum memiliki divisi-disivi pekerjaan yang terspesialisasi, artinya distribusi pekerjaan belum berjalan normal.

Kondisi ini membuat banyak pekerjaan ditangani oleh satu atau dua orang saja. Sehingga banyak tenaga dan pikiran terkuras untuk banyak hal dan membuat tidak fokus.

Sangat mungkin dalam merintis usaha, baru memperkerjakan karyawan hanya dua atau tiga karyawan. Dan harus mengerjakan hampir semua bagian secara bertumpuk-tumpuk. Misalnya melayani pelanggan, sebagai pemegang uang (kasir), mengurusi pemesanan barang, bagian gudang, bagian pemasaran, melakukan distribusi dan sebagainya.

Jelas ini bukan kondisi yang ideal bagi sebuah perusahaan, dimana akan membuat sulit pencatatan, pengawasan dan kontrol. Para wirausahawan baru harus menyadari hal ini dan bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Baca juga  Cara Mendirikan CV dan Persyaratan yang Diperlukan

5. Pangsa Pasar yang Masih Abu-abu

Usaha baru dengan produk yang mungkin sama ditawarkan oleh kompetitor, belum tentu akan mendapat pelanggan tetap dalam waktu yang singkat.

Kenapa? Karena psikologi pelanggan itu sudah terbentuk pada supplier yang lama. Karena mungkin disana lebih mudah melakukan pembayaran (menyediakan pembayaran virtual misalnya). Atau ruangannya lebih nyaman dan bersih, sudah merasa cocok karena pelayanannya yang ramah dan menyenangkan, lokasinya lebih dekat dan sebagainya.

Pelanggan tidak akan serta merta pindah ke tempat usaha anda yang mungkin walaupun menawarkan barang dengan harga yang lebih miring.

Oleh karena itu memahami psikologi pelanggan penting untuk dapat mengetahui kebutuhan mereka yang tidak hanya didasarkan pada hal-hal teknis tetapi juga non teknis.

6. Profit yang Masih Labil

Tidak ada usaha yang baru dijalankan mendapatkan keuntungan yang besar dan langsung stabil untuk jangka waktu yang lama, semua membutuhkan proses.

Malah mungkin diawal-awal usaha baru bisa menjual produk dengan kuantitas yang sedikit dan banyak menerima keluhan pelanggan. Tentunya keuntungan belum bisa dihasilkan, bahkan modal saja belum kembali.

Dalam kondisi ini ketegaran dan ketangguhan wirausahawan diuji untuk tetap tekun dan menerima banyak masukan yang berharga untuk mengembangkan usaha.

Demikian beberapa tantangan yang akan dihadapi para pebisnis yang baru merintis usaha mereka, untuk dijadikan tambahan pengetahuan yang bermanfaat.

Demikian Tantangan Memulai Usaha Baru yang Akan Dihadapi oleh Para Pelaku Usaha. Info lain: Skill Entrepreneur yang Harus Dikuasai oleh Wirausahawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *