Penyelesaian Pembangunan Hagia Sophia, Pengeboman Bunuh Diri Grozny dan Dimulainya Perang Gaza

Now You Know – 27 Desember: Penyelesaian Pembangunan Hagia Sophia, Pengeboman Bunuh Diri Grozny dan Dimulainya Perang Gaza
Hagia Sophia - Kompas

Halo sobat Mibi, hari ini tanggal 27 Desember telah tercatat dalam sejarah dunia beberapa peristiwa penting dan menarik untuk disimak bersama sebagai tambahan pengetahuan umum diantaranya Penyelesaian Pembangunan Hagia Sophia.

Hagia Sophia Selesai Dibangun

Hagia Sophia merupakan bangunan megah di jaman milenium awal yang telah berubah berulang-ulang kali fungsi dan bentuknya dari gereja/basilika, masjid, museum dan masjid kembali. Bangunan basilika ini pada sejarahnya pernah hancur berkali-kali karena berbagai faktor dari kebakaran, penjarahan, kekalahan perang sampai gempa bumi.

Basilika yang megah ini dibangun untuk sebagai penanda pusat kedudukan Patriark Ortodoks Konstantinopel. Yang merupakan gereja terbesar Kerajaan Romawi Timur (Byzantium) yang digunakan untuk berbagai hal berkaitan dengan penobatan kaisar-kaisar. Sebagaimana gereja-gereja jaman dahulu menjalankan fungsinya, pelanggar-pelanggar hukum mendapatkan perlindungan dari basilika ini untuk tetap mendapat berbagai hak-hak mendasarnya.

Basilika ini pernah tiga kali dibangun yang pertama kali yaitu di tahun 360 dibawah pemerintahan Konstantinus II. Gereja Hagia Irene (“Kedamaian Suci”) di dekatnya selesai lebih awal dan berfungsi sebagai katedral sampai Gereja Besar selesai dibangun. Selain Hagia Irene, tidak ada catatan gereja besar di pusat kota sebelum akhir abad ke-4. Gereja pertama ini dibakar karena ada perselisihan yang menyisakan hanya puingpuing saja.

Gereja Hagia Sophia

Theodosius II memerintahkan kembali untuk membangun gereja itu yang diperkirakan selesai pada tahun 450 yang memperkenalkan nama Hagia Sophia sebagai Magna Ecclesia atau Gereja Agung. Sementara penamaan Hagia Irene yang sebelumnya disematkan mengacu kepada Gereja Lama yaitu Ecclesia Antiqua. Ketika terjadi revolusi Nika, gereja Hagia Sophia yang kedua hancur oleh kebakaran dahsyat hingga ke tanah pada Januari 532.

Baca juga  Organisasi Muhammadiyah Berdiri, Kebakaran di Stasiun Bawah Tanah London

Dibawah pemerintahan Kaisar Yustianus, basilika kembali dibangun hanya berselang beberapa hari setelah kebakaran dahsyat tersebut yang dimulai pada Februari 532. Pembangunan ini bisa dilakukan juga atas jasa dari seorang atasan di kerajaan Romawi yang menyumbangkan sekitar 4.000 pon emas Romawi yang melibatkan lebih dari 10.000 pekerja untuk menyelesaikannya. Pembangunan gereja Hagia Sophia waktu itu dipandang menggebrak tradisi bangunan-bangunan yang ada karena beberapa hal pembaharuan yang dilakukan.

Justinian dan Patriark Menas meresmikan basilika baru pada 27 Desember 537. Tepatnya hanya 5 tahun 10 bulan setelah pada Februari 532 dimulai dibangun, dengan banyak kemegahan. Hagia Sophia ini memang dijadikan sebagai tampuk kursi Patriarkat Konstantinopel untuk menyelenggarakan upacara kekaisaran Bizantium, seperti penobatan. Basilika menawarkan perlindungan dari penganiayaan kepada penjahat, meskipun ada ketidaksepakatan tentang apakah Justinianus bermaksud agar pembunuh memenuhi syarat untuk suaka.

Berubah Menjadi Masjid

Setelah kejatuhan Kerajaan Romawi Timur ke tangan Ustmaniyah (Ottoman) pada tahun 1453  yang bernafaskan islam, maka gereja megah itu diubah fungsinya menjadi masjid dengan beberapa peralatannya seperti bel, altar, tempat penahbisan dipindahkan dan dihancurkan digantikan dengan beberapa peralatan masjid pada umumnya.

Namun ketika Turki menjadi Republik yang sekuler. Maka fungsi masjid digantikan menjadi sebuah museum sejak tahun 1935 ketika Mustafa Kemal Atarturk memgang kendali. Uniknya di tahun 2020 dibawah pemerintahan Recep Tayyib Erdogan, museum Hagia Shopia difungsikan menjadi masjid kembali.

Pengeboman Bunuh Diri Grozny

Pengeboman truk Grozny terjadi pada 27 Desember 2002, ketika tiga pengebom bunuh diri Chechnya menabrakkan kendaraan ke markas pemerintah republik yang dijaga ketat di ibukota regional Grozny.

Pengemudi dua kendaraan dilaporkan mengenakan seragam militer federal dan membawa izin resmi. Memungkinkan mereka melewati tiga pos pemeriksaan militer berturut-turut dalam perjalanan ke gedung markas. Seorang penjaga di pos pemeriksaan keempat dan terakhir berusaha untuk memeriksa kendaraan. Dan mulai menembaki kendaraan saat mereka melewati pos pemeriksaan menuju gedung.

Baca juga  Pulau Tasmania Ditemukan oleh Abel Tasman dan Karya Charles Darwin yang Kontroversial

Ledakan yang setara dengan satu ton dinamit itu merobohkan atap dan lantai gedung berlantai empat itu. Kejadian tragis itu menewaskan 83 orang (48 di tempat) dan 210 terluka.  Beberapa pejabat pemerintahan Chechnya terluka dalam serangan itu. Termasuk Wakil Perdana Menteri Zina Batyzheva (luka parah) dan Sekretaris Dewan Keamanan Chechnya Rudnik Dudayev.

Kolonel Ilya Shabalkin, juru bicara pasukan federal gabungan di Chechnya, mengatakan pengeboman itu diorganisir oleh komandan lapangan pemberontak Chechnya Abu al-Walid dan Shamil Basayev. Dan Basayev mengaku bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan serangan itu. Dengan mengatakan bahwa dia secara pribadi meledakkan bom dengan kendali jarak jauh.

Perang Gaza

Pada tanggal 27 Desember 2008, sebuah perang terbuka dan brutal selama tiga minggu dimulai pada hari itu dan berakhir pada 18 Januari 2009 antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dengan kelompok paramiliter Palestina.

Ada dua versi yang menjadi faktor penyebab pecahnya peran itu. Dimana disisi Israel mengklaim bahwa serangan itu adalah balasan dari serangan roket yang memprovokasi pertahanan Israel. Dan juga sebagai upaya untuk menyetop penyelundupan senjata-senjata perang di perbatasan Gaza.

Sementara dari Palestina yang diwakili Hamas menyatakan bahwa adanya roket yang mengarah ke teorwongan Gaza sebagai pelanggaran genjatan senjata. Karena terowongan dianggap Israel menjadi tempat penculikan tersembunyi pasukan-pasukan mereka.

Balasan serangan terjadi yang mana roket dari Israel telah mengenai wilayah padat penduduk di Rafah dan Khan Yunis yang menurut Israel diarahkan ke pertahanan militer dan juga politik Palestina. Perang kedua kubu itu dianggap telah melanggar hukum perang internasional karena penyerangan yang ditujukan ke masyarakat sipil dan bangunan mereka.

Palestina juga melancarkan roketnya ke wilayah Israel utara yang juga padat penduduk, Bersyeba dan Ashdod sehingga membuat perang semakin tidak terkendali dengan banyak korban dari sipil.

Baca juga  Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), Permainan Monopoli Pertama Kali Diperkenalkan, Hari Jadi Minahasa

Tercatat bahwa lebih dari 1.400 orang Palestina meninggal dan di sisi Israel sebanyak 14 orang meninggal. Perang mulai berhenti pada tanggal 18 Januari 2009, ketika Israel mulai mengumumkan akan terjadi penghentian serangan yang dua belas jam kemudian Palestina juga mengumumkan hal yang sama. Penarikan seluruh pasukan Israel (IDF) dilakukan pada tanggal 21 Januari 2009.

Info lain: Now You Know – 26 Desember: Perdamaian Pressburg Disepakati, Penemuan Radium oleh Marie dan Curie serta Gempa dan Tsunami Aceh Samudera Hindia 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *