Now You Know – 24 Januari: Berakhirnya Perang Banjar dan Pemberontakan Malê

Now You Know – 24 Januari: Berakhirnya Perang Banjar dan Pemberontakan Malê
Now You Know – 24 Januari: Berakhirnya Perang Banjar dan Pemberontakan Malê (pict: onepathnetwork)

Halo sobat Mibi hari ini tanggal 24 Januari telah tercatat dalam sejarah nasional dan dunia beberapa peristiwa penting dan menarik untuk disimak bersama sebagai pengetahuan umum diantaranya adalah Berakhirnya Perang Banjar dan Pemberontakan Malê

Perang Banjar Berakhir

Selama penjajahan Belanda, beberapa wilayah Nusantara berhasil ditaklukan oleh  Belanda yang sebenarnya tujuan utama mereka untuk memperluas perdagangan berbagai komoditas seperti rempah-rempah, beras, emas dan lainnya.

Namun ketika melihat peluang bahwa kedudukannya tidak hanya bisa menguasai perdagangan. Belanda mulai melancarkan taktik pendudukan dengan menguasai dunia perpolitikan. Waktu itu, Nusantara masih banyak dikuasai oleh kerajaan-kerajaan kecil dan besar di seluruh wilayah.

Ketika belanda mulai tercium gelagat bahwa niatnya bukan saja untuk murni berdagang. Mulai dari situ banyak mencampuri urusan internal kerajaan-kerajaan lokal.

Campur tangan ini membuat gerah para pemimpin yang tidak ingin diintervensi, banyak dari mereka melawan Belanda secara terang-terangan.

Pemicu Perang Banjar

Perang banjar yang terjadi di hampir seluruh wilayah Kalimantan bagian selatan dan tengah juga dipicu akibat monopoli perdagangan Belanda atas Kesultanan Banjar yang terkenal dengan Sumber Daya Alam (SDA) mereka yang melimpah akan emas, rotan, lada, damar dan intan.

Monopoli perdagangan menguatkan posisi Belanda dengan kekuatan ekonominya untuk merecoki beberapa keputusan Kesultanan Banjar. Intensitas gesekan kedua pihak semakin meningkat yang menandai dimulainya Perang Banjar.

Adalah Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar dibantu oleh Pangeran Hidayatullah II, Kiai Demang, Tumenggung Surapati dan anaknya Gusti Muhammad Seman. Perjuangan gigihnya sempat beberapa kali memukul pasukan Belanda dengan pengrusakan pos-pos mereka.

Namun Belanda juga tidak ingin kalah dengan terus membalas serangan-serangan dari pangeran Antasari. Perjuangan Antasari terus berlanjut hingga beliau mengidap penyakit keras dan harus mendelegasikan wewenang itu kepada anaknya Sultan Muhammad Seman.

Penerus Antasari

Seman memiliki darah suku Dayak dari garis keturunan ibunya yang membangun kembali Kesultanan banjar Baru yang sempat dihancurkan oleh Belanda.

Seman membangun kembali kekuatan untuk melawan belanda dengan Muara Teweh menjadi pusat pergerakannya. Sementara perlawanan di Kutai diserahkan kepada menantunya, Pangeran Perbatasari.

Beberapa pejuang lainnya yang masih hidup seperti Tumenggung Surapati, Panglima Bukhari dan Panglima Batur membantu Muhammad Seman melawan Belanda di banyak wilayah. Pada pertempuran itu Sultan Muhammad Seman gugur dalam perlawanan di tanggal 24 Januari 1905.

Dengan gugurnya Sultan Seman ini. Maka perlawanan terhadap Belanda mulai berkurang yang menandai berakhirnya era Perang banjar yang sudah dikumandangkan sejak tahun 1859.

Pemberontakan Malê

Gelombang datangnya imigran Afrika Muslim ke Brazil di abad 16 hingga 18. Menandai dimulainya perkembangan industri yang pesat untuk memenuhi permintaan sebagai tenaga kasar dan budak yang sedang banyak dibutuhkan.

Dengan begitu banyaknya gelombang manusia yang masuk ke negeri orang. Para pendatang itu kemudian membentuk sebuah komunitas besar dengan mempraktikan dan mengamalkan ajaran muslim yang mereka bawa dari negara asal mereka berada.

Muncullah sebuah istilah bagi masyarakat muslim yang berdiam disana oleh masyarakat lokal yang disebut dengan Malê yang diambil dari bahasa Yoruba, Nigeria. Sebutan Malê ini berlaku untuk mereka yang bertatus budak ataupun orang bebas.

Budak dan orang-orang merdeka merencanakan gerakan mereka di tengah-tengah sistem budak perkotaan Bahia yang berkembang pesat sebagai perlawanan.

Rencana Pemberontakan

Para konspirator telah menyusun rencana pemberontakan pada tanggal 25 Januari 1835. Ini bertepatan dengan perayaan Our Lady of Bonfirm yang merupakan hari libur umat Katholik. Tanggal itu juga bertepatan dengan hari terakhir bulan Ramadhan.

Namun rencana mereka dibocorkan oleh dua orang bebas keturunan Afrika. Mereka melaporkannya kepada polisi setempat pada tanggal 24 Januari 1835, yang direspon dengan penggeladahan orang-orang yang diduga akan melakukan pemberontakan.

Pertempuran tidak dapat dielakkan lagi dengan pemberontak Afrika di jalan-jalan kota atas, di tengah gedung-gedung pemerintah, teater, dan gereja-gereja yang sering dikunjungi oleh elit pemilik budak kulit putih.

Selama beberapa jam para pemberontak Muslim terlibat dalam perlawanan bersenjata dalam upaya untuk menggulingkan masyarakat pemilik budak kulit putih Bahia.

Ketakutan, beberapa keluarga kulit putih meninggalkan rumah mereka untuk tidur di lepas pantai dengan kano. Presiden Provinsi Martins mengirim otoritas militer dan polisi untuk mengusir kemungkinan konspirator.

Dalam dua hari setelah pemberontakan, polisi menangkap sedikitnya empat puluh lima budak dan lima puluh orang yang dibebaskan.

Penggerebekan berlanjut selama berbulan-bulan; ratusan orang Afrika akhirnya menemukan diri mereka dalam tahanan polisi.

Hukuman Pengadilan

Pengadilan menghasilkan hukuman yang berat: kematian, pemenjaraan, cambuk, dan deportasi. Hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan kepentingan properti tuan.

Budak tidak menghadapi hukuman penjara tetapi malah menjadi sasaran kerja paksa dan cambuk. Memastikan bahwa pemilik tidak kehilangan nilai uang yang diberikan tenaga kerja budak.

Freedmen, di sisi lain, mendapati diri mereka dijatuhi hukuman penjara dan, lebih umum, dideportasi ke pantai Afrika. Hukuman cambuk berkisar antara lima puluh hingga seribu dua ratus cambukan.

Banyak yang menganggap pemberontakan ini sebagai titik balik perbudakan di Brasil. Diskusi luas tentang akhir perdagangan budak trans-Atlantik muncul di media.

Sementara perbudakan ada selama lebih dari lima puluh tahun setelah Pemberontakan Malê, perdagangan budak dihapuskan pada tahun 1851.

Budak terus mengalir ke Brasil segera setelah pemberontakan, yang menyebabkan ketakutan dan keresahan di antara orang-orang Brasil.

Mereka takut bahwa membawa lebih banyak budak hanya akan memicu pasukan pemberontak lainnya. Meskipun butuh sedikit lebih dari lima belas tahun untuk terjadi, perdagangan budak dihapuskan di Brasil, sebagian karena pemberontakan tahun 1835.

Info lain: Now You Know – 23 Januari: Gempa Huaxian, Shaanzi, Kudeta APRA dan Perlawanan Pemuda Luwu terhadap Belanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *