Indikator Makro Ekonomi dalam Pendekatan Fundamental

indikator makroekonomi fundamental harga saham
Indikator Makro Ekonomi dalam Pendekatan Fundamental

Mikaylabinar.com– Secara teoritis terdapat beberapa variabel atau indikator makro ekonomi yang mempengaruhi pergerakan harga saham. Indikator tersebut seperti Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu ada juga tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar, harga komoditas dan minyak, Hedging, siklus bisnis dan lainnya.

Indikator Makro Ekonomi

Berikut ini penjelasan dari indikator makro ekonomi yang memengaruhi pergerakan harga market:

1. GDP

GDP biasanya menjadi acuan utama dalam mengukur kinerja makro ekonomi. Acuan ini mencerminkan market value dari barang dan jasa yang dihasilkan secara domestik dan pemanfaatan real GDP paling lazim karena telah mengoreksi faktor inflasi.

Dalam GDP dikenal adanya real GDP dan nominal GDP, dimana real GDP merupakan GDP yang telah disesuaikan dengan faktor inflasi.

Suatu kondisi ekonomi mengalami resesi jika dalam 2 triwulan berturut-turut ditandai dengan pertumbuhan real GDP yang negatif.

Terdapat leading indicator dari pertumbuhan GDP dalam rangka memprediksi pergerakan ekonomi dimasa yang akan datang. Indikator tersebut berupa unemployment insurance claims, consumer spending, consumer confidence, business order, business productivity dan kegiatan yang terkait dengan konstruksi dan real estate

2. Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga pinjaman mencerminkan biaya yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat dari meminjam uang dan hal ini akan memengaruhi kinerja bisnis melalui dua cara.

Pertama, suku bunga akan memengaruhi dalam menentukan harga yang perusahaan harus bayar atas pinjaman yang telah diterimanya. Dengan asumsi tingkat suku bunga yang rendah berarti berkurangnya biaya bunga dan meningkatkan profit.

Baca juga  Analisis Perusahaan Secara Fundamental

Kedua, suku bunga tidak hanya mencerminkan biaya konsumsi saat ini dan masa yang akan datang tetapi mencerminkan harapan inflasi dan risiko kredit

3. Inflasi

Inflasi, kondisi dimana jumlah barang yang beredar lebih sedikit dari jumlah permintaan sehingga akan terjadi kenaikan harga yang meluas dalam sistem perekonomian secara keseluruhan. Terjadinya inflasi akan memengaruhi daya beli konsumen berupa penurunan kemampuan daya beli.

Jika suatu Negara mengalami inflasi yang tinggi akan menyebabkan risiko dalam dunia investasi aset keuangan yang menyebabkan mata uang domestik melemah terhadap mata uang global.

4. Nilai Tukar

Nilai tukar, mencerminkan berapa unit dari setiap mata uang lokal yang dapat dipergunakan untuk membeli mata uang lainnya.

Perubahan nilai tukar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar, defisit perdagangan, perilaku bank sentral yang terkait dengan independensinya, market expectation, ekspor dan impor Negara

5. Harga Minyak dan Komoditas Utama

Harga minyak dan komoditas utama, harga minyak di pasar internasional  akan memengaruhi biaya operasional perusahaan.

Kenaikan minyak akan meningkatkan biaya transportasi dan biaya energi berakibat dampak pada semua perusahaan. Kenaikan minyak juga akan mengurangi jumlah konsumsi masyarakat pada komoditas lainnya

6. Hedging, Siklus Bisnis dan Faktor Lain

Hedging, perusahaan dapat melakukan lindung nilai dari kemungkinan kerugian akibat pergerakan tingkat suku bunga, perubahan nilai tukar  dan pergerakan harga komoditas utama. Adanya lindung nilai tersebut harus dijelaskan dalam laporan keuangan perusahaan

Siklus Bisnis, bisnis suatu Negara disebut bertumbuh jika GDP nya meningkat, tingkat pengangguran yang rendah, dan tingkat keyakinan konsumen yang cukup tinggi. Sebaliknya, siklus bisnis dikatakan kontraksi jika petumbuhan GDP rendah, pengangguran tinggi dan tingkat keyakinan konsumen yang rendah.

Baca juga  ROA ROE dalam Analisis Profitabilitas Saham

Faktor lain, faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam indikator makro ekonomi seperti defisit anggaran, investasi swasta, neraca perdagangan dan pembayaran. Timbulnya defisit anggaran merupakan sinyal akan munculnya resesi, yang merupakan indikasi buruk bagi pasar yang inflasi.

Meningkatnya investasi swasta di suatu Negara merupakan sinyal positif bagi pasar modal. Ini karena akan mendongkrak GDP yang berdampak pada daya beli konsumen meningkat. Sebaliknya, defisit neraca pembayaran akan memicu peningkatan demand akan mata uang asing sehingga mendorong pelemahan mata uang lokal.

Melemahnya mata uang lokal akan memicu peningkatan suku bunga sehingga akan menurunkan tingkat investasi swasta. Baca juga: Nilai mata uang suatu negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *