Berikut Yang Perlu Diketahui Tentang Penguatan Nilai Uang Suatu Negara

Berikut Yang Perlu Diketahui Tentang Penguatan Nilai Uang Suatu Negara
Berikut Yang Perlu Diketahui Tentang Penguatan Nilai Uang Suatu Negara

Penguatan nilai uang- Pernahkah anda protes kenapa nilai mata uang rupiah melemah terus ? Atau pernahkah anda berpikir kenapa pemerintah tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya ? ????,

Pertanyaan seperti itu kadang kita jumpai saat ngumpul-ngumpul dipinggir jalan minum kopi. Dimana orang “kecil” biasanya suka komentar tentang politik bahkan komentarnya penuh semangat melebihi pengamat politik di televisi

Penguatan Nilai Uang Suatu Negara

Kita yang lahir pada generasi tahun 1980-an kebawah akan merasakan pengalaman kekuatan mata uang. Dimana awal tahun 1990-an uang dengan nominal 100 rupiah sudah sangat berharga karena bisa beli mie instant dan jajan permen.

Pada saat itu, Uang 10.000 rupiah sudah begitu “power”. Karena bisa beli minyak tanah, bensin, garam, cabe dan lain-lain dipasar. Dan pada saat itu nominal satuan uang rupiah tertinggi pecahan 10.000

Seiring pergantian waktu hingga saat ini nilai mata uang rupiah nominalnya semakin besar namun nilainya semakin melemah, uang 100.000 rupiah hanya habis dibuat makan, beli jus, rokok  dan rehat sejenak di warung pinggir jalan.

Kenapa nilai suatu mata uang semakin tidak ada “harganya” padahal nominalnya semakin tinggi ? itulah yang disebut inflasi

Mata uang suatu negera akan cenderung menguat apabila permintaan ( demand) dari uang tersebut lebih besar dibandingkan dengan penawaran (supply) nya.

Dengan kata lain, jumlah pembelian mata uang tersebut lebih besar dibanding dengan jumlah penjualannya dalam suatu periode tertentu.

Hal inilah yang membuat penguatan nilai uang suatu Negara menguat dibanding dengan mata uang lainnya.

Permintaan dan Penawaran

Begitupun sebaliknya, mata uang suatu negera cenderung melemah jika permintaannya sedikit dan penawarannya banyak

Baca juga  Pembunuhan John Lennon dan Mary Ratu Skotlandia Dilantik

Permintaan dan penawaran suatu mata uang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

  1. Defisit/surplus dari ekspor atau impor,
  2. Defisit/surplus dari pendapatan atau pengeluaran (belanja) pemerintah,
  3. Dan stabilitas dalam negeri

Suatu Negara dikatakan defisit perdagangan apabila jumlah ekspor lebih kecil daripada jumlah impor. Begitu juga sebaliknya, surplus terjadi jika jumlah ekspornya lebih besar dibandingkan dengan jumlah impornya.

Aktivitas perdagangan ekspor dan impor akan mempengaruhi terhadap permintaan uang suatu Negara. Misalnya : ketika ekspor Indonesia lebih besar dari impornya. Maka permintaan akan mata uang rupiah menjadi banyak yang berakibat rupiah menjadi menguat terhadap mata uang asing.

Negara atau perusahaan asing akan bertransaksi menggunakan mata uang rupiah. Atau perusahaan asing membayar dengan dolar dan rekanannya dalam negeri menukarkan kedalam rupiah sehingga permintaan akan rupiah meningkat

Sebaliknya, ketika Indonesia melakukan impor barang. Maka harus menjual rupiah dan membeli mata uang asing yang akan dipergunakan sebagai alat bayar di luar negeri. Dampaknya supply akan rupiah menjadi banyak dan demand terhadap mata uang asing menjadi sedikit.

Karena penawarannya semakin banyak maka harga mata uang rupiah menjadi melemah. Apabila suatu Negara menginginkan mata uang negaranya menjadi kuat. Maka yang harus dilakukan yaitu memperkuat ekspor perdagangannya agar kondisi ekspor menjadi surplus.

Oleh karena itu, untuk menjaga agar mata uang suatu Negara tidak terus melemah. Maka pemerintah membatasi impor dan mendorong perusahaan dalam negerinya untuk melakukan ekspor

Yang kedua, pemerintah mengalami defisit jika pengeluarannya lebih banyak dibandingkan dengan penerimaannya.

Begitu juga sebaliknya, surplus terjadi jika penerimaan atau pendapatan Negara lebih besar dibanding biaya atau pengeluaran belanja Negara

Sumber Pendapatan Negara

Pemerintah mendapatkan sumber pendapatan dari : perpajakan, keuntungan dari perusahaan pemerintah (BUMN), royalti sumber daya alam, dan pendapatan lainnya.

Baca juga  Pribadi Ekstrovert yang Tidak Pernah Kehabisan Energi

Sedangkan pengeluaran atau belanja pemerintah berupa pembangunan infrastruktur, subsidi untuk membantu daya beli masyarakat, biaya operasional pemerintah seperti biaya gaji aparatur dan pns Negara, dana pendidikan, bantuan sosial dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jika beban biaya atau pengeluarannya lebih besar daripada pendapatannya, Negara harus berutang untuk menutupi kebutuhan dana pengeluarannya.

Terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk berutang, salah satunya dengan menerbitkan surat utang atau obligasi seperti ORI ( obligasi ritel Indonesia), SUN (surat utang Negara), sukuk dan lain sebagainya.

Pemerintah juga dapat melakukan utang ke luar negeri. Dengan demikian permintaan uang luar negeri akan semakin banyak sehingga mata uang dalam negeri menjadi lemah karena lebih banyak supply dibanding demand

Ketiga, Stabilitas dalam negeri. Negara yang stabil dan aman akan menarik investor untuk berinvestasi di dalam negeri.

Dengan semakin banyaknya investor yang menanamkan modalnya dalam negeri akan berdampak pada semakin banyaknya lapangan kerja dan juga akan meningkatkan ekspor produk dari dalam negeri.

Dengan demikian permintaan akan mata uang rupiah menjadi banyak sehingga menyebabkan rupiah menguat

Sebaliknya, Negara yang tidak stabil misalnya korupsi yang merajalela, konflik horizontal, sering terjadi demo dan stabilitas politik yang kacau akan menyebabkan investor tidak tertarik untuk berinvestasi.

Bahkan hengkang atau keluar dari Negara tersebut dan memindahkan modal serta investasinya ke Negara lain yang lebih aman dan stabil.

Jadi agar kondisi ekonomi baik dan mata uang menguat maka stabilitas nasional harus dijaga, perkuat ekspor dan naikkan pendapatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *